eM-Saying

Akhirnya, bisa balik lagi setelah sekian abad bertapa di rumah^Silakan comment ya, ntar dibales kok
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Maret 06, 2010

30 Menit....


Tulisan pertama setelah…
Hmm, bahkan saya sendiri lupa kapan terakhir melayangkan posting disini.
Parah memang, tapi memang begitulah kenyataannya. Banyak hal di dunia nyata yang benar-benar menyita waktu, tenaga, dan pastinya, uang. Tapi untuk saya yang baru duduk di kelas tiga SMA ini ada satu hal yang menjadi momok tersendiri, UN.
Yap, bisa dipastikan semua anak sekolah yang memasuki jenjang akhir pada tahun ini “pada-padanya” disibukkan oleh mahluk yang satu ini. Bukan hanya saya yang SMA, anak SMP dan SD pun tentunya tengah bergelut dengan caranya sendiri. Berjuang untuk lulus, tentunya, bukan untuk menerima kegagalan.
Meski begitu, sadar betapa lamanya blog ini sepi, saya menyempatkan 30 menit pada mala mini untuk sekedar menulis apa yang lagi pengen ditulis. Bukan hal yang berat, karena yang ada di kelapa ini hanya kumpulan rumus dan kosakata bahasa Inggris.
            Mungkin ini dulu ya, nggak bisa panjang-panjang. Yang jelas, buat temen-temen semua, saya Cuma pengen bilang kalau blog ini masih hidup, dan insya Allah akan terus hidup. Keep comment ya, and doakan saya lulus dengan hasil memuaskan. Amin. ^_^

Minggu, Oktober 25, 2009

Hidup Yang Kian Sesak


Well, ini tulisan yang akhirnya bisa ditulis setelah mencari-cari waktu luang yang sangat sulit untuk didapatkan di bulan-bulan penuh kegiatan kayak gini. NGaak banyak yang bisa ditulis, tapi yang penting ini blog masih bisa hidup. Coznya, nggak tenang low kepikiran terus.
Nah, ini sekedar curhatan pendek yang nggak terlalu penting juga sebenernya. Kegiatan di skul dah bener-bener kayak neraka. Dari jam 7.30 pagi sampai pukul 17.10, dari hari kamis samapi senin. Eits, dari senin sampai kamis maksudnya. Terus jumat, habis solat Jumat langsung liqo n langsung ke tempat bimbel. Jam 4 lewat baru nyampe rumah. Sabtu, habis pulang skul langsung ke bimbel lagi, sampai hampir maghrib tuh. Low malam mah jangan ditanya lagi, Cuma sibuk ngerjakan tugas n nyiapin ulangan. Haduuuuuuuuuuuh.
Yah, hari minggu emang kosong sebenernya, tapi low mikirin hari seninnya pasti nggak tenang. Jadilah hari libur satu-satunya itu untuk menyiapkan hari senin. Dari nyuci baju, nyetrika, ngeberesin seragam, sampai ngenginclongin tuh sepatu. Hah, I’m a prisoner of school.
And di tengah-tengah jadwal yang menyesakkan itu, akhirnya saya nyuri kesempatan buat ke warnet. Itupun Cuma dapat jatah 1 jam. Bukan dibatasin orang rumah, tapi dibatasin ma kegiatan yang lain. When I can get the free breath…
Oke deh, itu dulu. Tetep kunjungin blog ini yah, miss u all.

Rabu, September 09, 2009

Seberharga Sekeping Perak

9 September 2009, Rabu malam.
Bingung juga sebenarnya dengan bahan yang akan diposting. Mau membahas tentang paskibraka, sudah nggak semangat. Pengen mengulas Malaysia, berita di tv sudah ramai dengan gempa di pulau Jawa. Pengen nge-review buku, well, itu tugas bahasa Indonesia liburan ini.
Di tengah kebingungan selepas buka puasa bersama Pemkab Banjar, akhirnya saya memilih untuk menyalakan laptop ini. Teringat satu hal, yang jujur saja sudah terlalu lama terlupakan, Kontra 24.
Mungkin sebagian besar tidak tau dengan nama itu, tapi dari situlah saya bisa memiliki blog seperti sekarang ini. Kontra 24, sebuah komunitas blogger bagi santri-santri Al Falah Putera, sebuah komunitas yang terpinggirkan dari perhatian pengurus pondok. Yahh, whatever it, yang jelas komunitas ini telah merangkak dari keberadaannya yang underground hingga bisa berdiri tegak di hadapan komunitas pondok yang lain. You’re great all !
Kalau diingat sikap saya akhir-akhir ini terhadap Kontra, keterlaluan. Kok bisa-bisanya saya lupa betapa berharganya komunitas ini, betapa pentingnya teman-teman seperjuangan yang ada didalamnya. So sorry boys, forgive my mistake, please.
Beside it, yang sangat berperan dalam hal ini adalah perbincangan saya dengan seorang teman, known as Sauqina, via sms.
< Saya : Twitter ? Kayak gimana sih tuh ? Kok aq ngerasa bodoh banget g tau
Ina : Tenang j eM, di skul banyak juga kok yang nggak ngerti twitter
Saya : Hmm, udah lama nggak nemu sama anak-anak kontra, low ma mereka rasanya bisa ngutarain apa aja tanpa ada down-downan
Ina : Nemu ? Kayak duit receh aja eM
Saya : He eh, kami mank kayak duit receh low diliat sama orang-orang di luar komunitas, nggak berhrga
Ina : Mmm, tapi duit receh itu berharga lho eM. Low duit sejuta kurang seratus, nilainya jadi 999.900. Low semilyar kurang seperak, nggak jadi semilyar >
Hmm, great words. Thanks a lot Na, ini benar-benar berharga. And for you Kontra, I’ll be back.

Jumat, Agustus 28, 2009

Malaysia... Malaysia...


Malaysia, negeri tetangga yang tidak pernah bisa lepas dari berita hangat negeri ini. Ya, Malaysia yang dulunya kita anggap sebagai saudara sekali itu saat ini terus-menerus ‘menjajah’ Indonesia tercinta.
Tentunya kita semua masih ingat dengan peristiwa blok Ambalat, suatu peristiwa yang sangat mengusik keperkasaan tanah air pusaka. Saat itu, pihak negeri tetangga dengan seenaknya masuk wilayah Indonesia, tanpa izin, tanpa permisi, tanpa yang namanya sopan santun bertetangga.
Flash back lagi, siapakah yang tanpa muka mengatakan bahwa lagu Rasa Sayange itu adalah miliknya ??? Siapa lagi kalau bukan Malaysia. Walaupun sebenarnya saya sendiri belum pernah mendengar lagu itu sebelum dinyanyikan para Malay(menyedihkan sebenarnya), saya merasa sangat dihina sebagai seorang Indonesia ketika mereka mengakui kepemilikan lagu tersebut.
Belum lagi pengklaiman Malay terhadap batik, reog ponorogo dan kebudayaan Indonesia lainnya sebagai budaya mereka. Ayolah, bukankah negeri itu sudah makmur, mengapa mesti mengusik kepemilikan orang lain sih. Saya pribadi tidak bisa menyalahkan negeri ini yang tidak mematenkan budaya sendiri, karena sejak kapan ada budaya yang dipatenkan?
Malaysia… Malaysia, sebegitu miskinnya kah kalian hingga mengusik ketentraman tetanggamu sendiri ???

Sabtu, Agustus 22, 2009

My Proud Day


Tujuh belas Agustus baru saja berlalu. Hari yang sangat bersejarah, terutama bagi diri saya sendiri. Karena untuk menghadapi hari tersebut, hari dimana saya bersama beberapa puluh orang rekan bertugas untuk mengibarkan bendera merah putih, kami mesti menghadapi masa-masa yang benar-benar berat.
Sayangnya pada kesempatan ini saya belum bisa menuliskan beratnya kehidupan selama di camp candradimuka yang kami jalani selama 2 minggu karena foto-foto yang mendukung belum saya dapatkan. Karenanya, saya hanya akan menceritakan hari H saat kami mengibarkan dan menurunkan bendera.
Kami, anggota Paskibraka Kabupaten Banjar tahun 2009, tiba di DP(Daerah Persiapan) pengibaran pada pukul 10.00 wita. Sekitar setengah jam sesudahnya dimulailah detik-detik proklamasi, yaitu pengibaran bendera merah putih. Saat-saat yang sangat menegangkan.
Selaku danton pasukan 17-8 adalah saya sendiri, pengibar bendera adalah Fathurrahim, Fathurrahman(kembar) dan Muhammad Najmi, pembawa baki pagi Siti Maulidah dan pembawa baki sore Asura. Sedangkan danpas(komandan pasukan) adalah Ka F.A. Nasution(polisi).
Syukur alhamdulilah pengibaran dan penurunan bendera yang kami laksanakan berlangsung sukses. Hmm, tidak banyak hal yang bisa saya ulas tentang ini, karena cerita-cerita menarik lebih banyak saat tengah menjalani pelatihan. So, tunggu aja ceritanya ya.

Sabtu, Agustus 01, 2009

Kelas Baru, Jabatan Baru

Tahun ajaran baru sudah lewat lumayan lama, tapi yang namanya kelas baru bakal sedikit berbeda. Apalagi, dengan jabatan yang baru.
Well, di tahun ini saya berkesempatan untuk menjadi ketua kelas(mengherankan sebenarnya karena saya orangnya rada cool(baca=error) gitu).  Yah, meskipun ini tahun terakhir sekolah di SMA, tapi bukan berarti bisa santai menghadapi kelas.
Yang menjadi motivator saya tentunya adalah wali kelas kami, Pak Anas namanya. Nah, atas saran beliau, kelas kami jadi punya struktur yang rada nggak biasa, yaitu ada yang namanya divisi upacara, dokumentasi dan perencanaan. Wew, asik juga ternyata.
Selain itu, kelas baru ini sedikit-banyaknya punya ‘kekuatan’ untuk merubah kebiasaan beberapa orang temen. Percaya atau tidak, temen sebangku saya(berelaan banar nah jal, ini lain pencemaran nama baik lo??) yang dulunya selalu telat sekarang masuk kelas selalu sebelum saya. Weleh-weleh, raja nyawa jal ai.
Oke deh, kayaknya ini dulu yang mau direportin, 2 minggu ke depan mesti karantina, jadi nggak bakalan bisa blogging lagi. C u semua.

Selasa, November 25, 2008

Sebuah Nama Sebuah Cerita

Apalah arti sebuah nama.
Ya, tentunya kita pernah mendengar kalimat tersebut, baik hanya sepintas atau dalam suatu pembicaraan serius. Sebuah pernyataan yang nampaknya sangat kontra dengan keberadaan sebuah nama. Jika memang demikian, apakah nama itu tak pernah lebih dari suatu inisial ?
Saya pribadi tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Bayangin aja, saya yang ditakdirkan lahir sebagai seorang laki-laki, di mana pada saat pemberian nama udah menghabiskan dua ekor kambing, mana mungkin menerima ‘apalah arti sebuah nama’ tersebut ? Tidak setuju, sangat tidak setuju.
Anonim, tak bernama, keberadaan yang tak pernah ada, sekilas sepertinya itu merupakan hal yang mengagumkan. Tapi tak mungkin sebuah nama tercipta tanpa makna di dunia ini. Semuanya memiliki rahasia, semuanya memiliki cerita, semuanya memiliki kenangan yang mungkin tak pernah sempurna.
Sebagai contoh adalah Muhammad Noor (nama saya sendiri_^), yang berarti cahaya sang nabi. Itu baru arti secara harfiah bahasa Arab, belum lagi arti tersembunyi dari nama saya tersebut yang didapat dari PR mas Erik buat saya yang ada di sini. Dari pe er itu saya menjadi semakin sadar terhadap dalamnya makna suatu nama. Saya bangga dengan nama saya (yang ternyata masuk kategori A), dan Anda juga mesti bangga dengan nama yang ditakdirkan untuk menjadi bagian dari hidup Anda.
Url dan title blog ini juga memiliki maknanya tersendiri. Http://imrex2.blogspot.com. Imrex2 itu sebenarnya adalah penjelmaan dari ‘I am rex’, di mana artinya adalah aku seorang raja. Angka 2 yang ikutan nangkring di situ adalah inisial dari plural. Rainturb, rain = hujan (English) dan turb = tanah (Arabic), yang penggabungannya saya maksud dengan badai pasir. Ya, badai pasir yang gelisah akan kehadiran tetes-tetes bening menyejukkan yang ditakdirkan untuk mendamaikannya.
Memang, ini semua tentang nama, hanya tentang nama. Karena dalam sebuah nama, terdapat sebuah cerita.

Selasa, Oktober 28, 2008

Ada Apa Dengan Blogger ?

Ini cuma iseng-iseng saya aja yang beberapa minggu belakangan sangat amat sangat kesel sama blogger. Bayangin aja, berawal dari pertengahan bulan Ramadhan kode-kode kesalahan dari blogger mulai bermunculan di dashbor saya. Mulai dari tidak bisa log in (banyangkan saja, tidak bisa log in!!!ini kan parah namanya. Saya baru bisa masuk ke akun sendiri dengan cara langsung membuka url nya).
Mengapa tidak bisa masuk ??? Ya, itu karena pada saat log in saya langsung dihadang oleh kode kesalahan bX-Iteqmi( entah apa maksudnya itu). Satu bulan kemudian saya baru bisa log in secara legal, bahagianya. Tapi ternyata blogger masih belum puas ngerjain saya. Kode kesalahan bX-4d29 dan dua kode kesalahan lainnya langsung menyambut kedatangan saya, membuat saya tidak bisa mengganti template, terhapusnya beberapa buah widget dan tidak bisanya menghapus widget. Huff,,,sempat terpikir untuk menghapus saja blog ini pada saat itu.
Tapi alhamdulillah semua itu sudah berlalu. Sejak hari ini saya sudah bisa menggunakan blogger seperti biasanya, dengan template terbaru tentunya_^

Minggu, Oktober 12, 2008

Aku Resmi Seventeen


Jangan lewatkan momen berhargamu saat semua belenggu yang mengikat terlepas dan semua kekangan mereda.

Tujuh belas tahun, akhirnya saya yang dulunya masih menangis-nangis di ayunan kini telah menapakinya. Senang, tentunya. Bahagia, sepertinya tak ada kata yang bisa mewakili. Surprise, mungkin. Yang pasti, saat kalender bulan Oktober melewatkan angka delapan akhirnya saya bisa memulai kehidupan dengan angka 17_^

Berbeda dari anak-anak lain yang ultah ketujuh belas mereka dirayakan, saya hanya melewatinya seperti hari-hari biasa. Tak ada undangan pesta, tak ada kue ulang tahun, dan tentunya tak ada senandung ‘tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga’.Meski begitu, saya merasa semua orang terdekat merayakan hari bersejarah bagi saya itu dengan cara mereka sendiri-sendiri.

Dimulai saat jam menunjukkan pukul enam pagi. Satu sms masuk, dari seseorang yang pernah menemani hari-hari saya meski dari seberang pulau, Icha. Yang ditulisnya hanya lagu Happy Birthday, tapi itu sudah membuat hari saya diawali dengan senyuman. Saat di sekolah juga banyak yang ngucapin selamat ultah, waktu ditanya mana kadonya cuma dapet jawaban ‘tahun depan aja, ‘lagi kere’, ‘hadiahnya doa aja ya’, dll. Low temen-temen satu geng lain lagi, mereka malah ngasih olok-olokan yang lebih banyak dari hari biasanya_^Waktu pulang skul Ali ngasih kado juga, ‘buah nanas di atas pu un, eM bungas met ulang tahun’ begitu katanya, bikin semua anak yang denger jadi pada protes_^(sirik aja, nggak bisa liat orang seneng apa). Ada yang ngasih ucapan selamet di detik-detik terakhir tanggal delapan, ada juga yang ngucapinnya waktu udah tanggal sembilan. N untuk kado yang gambarnya ada di atas, itu dikasih sama Zaida n Tazah.

Oh iya, ada yang spesial banget di ulang tahun kali ini, karena ternyata tanggal, bulan dan tahun ultah saya sama persis dengan Tazah, jadi ya sama-sama ngucapin selamat ulang tahun deh_-

Udah dulu ah, buat yang berhalangan ngasih hadiah tinggalin komentarnya aja ya, biar entar nggak ditagih lagi…

Akhirnya Bisa Bernafas Lagi


Proposal buat study tour kelar!!!!!!!!!!!!

Huff, senengnya. Setelah tiga puluh hari di bulan Ramadhan yang penuh dengan perjuangan berat, akhirnya kami berlima (saya, Bayhaqi, Tazah, Bayu dan Fuad) bisa ngerefreshin diri lagi dari semua tugas buat pencarian dana tambahan.Nggak perlu lagi melototin komputer sampe jam 10 malam cuma buat ngehapus apa yang udah dirancang selama berhari-hari. Nggak ada lagi smsm bernada ‘cepetan ke skul, ada masalah penting yang mau diomongin!’. Nggak penting lagi berburu ttd semua pihak yang bertanggung jawab sama proposalnya. Dan tentunya nggak bakalan sering-sering lagi buat ngunjungin pom bensin.

Nah, karena semua yang udah dilewatin dirasa terlalu berharga untuk dilewatkan, akhirnya setelah pertemuan terakhir kami sepakat buat jalan-jalan ke HERO. Setelah masing-masing ngabisin 15.000 di Fun City, kami berlima sepakat buat nukerin tiket yang didapat sama gelang persahabatan yang fotonya nangkring di atas sana _^

Meski hanya punya waktu 1 minggu sebelum dan seusai lebaran buat bikin kepala kembali blank, tapi rasanya sepi juga nggak bisa ngebanyol, ketawa, kelaperan, ngomel-ngomel nggak karuan bersama mereka berempat. Dan saat sekolah masuk lagi, keceriaan itu akhirnya datang lagi.

Em, cepet sholat isya!”

Yah, berhubung si kakak yang bawel udah ngegedor pintu, diterusin nanti aja deh curhatannya. Yang jelas nggak lama lagi kami berlima bakal kembali sibuk…

Rabu, September 24, 2008

Lika-Liku Kami Berempat

Tiga minggu sudah berlalu dari bulan Ramadhan. Seharusnya ini merupakan waktu liburan panjang yang mesti dilewatkan dengan bermalas-malasan (seperti dulu waktu saya masih berstatus sebagai santri_-). Karena meskipun masih ada bimbel fisika dan kimia di sekolah, kami terbebas dari segala pelajaran (jangan dihitung tugas Ramadhannya yah_^). Tapi kenyataannya tidak begitu. Di bulan ini tenaga kami berempat – saya, Bayhaqi, Tazah dan Ali – benar-benar terforsir habis. Masalahnya tidak lain dan tidak bukan, study tour.

Benar-benar memusingkan untuk mencari penutup dari kekurangan dana di kelas kami yang mencapai 10 juta rupiah. Sebuah nilai yang besar karena memang ada 9 orang siswa yang terkendala dana. Sebenarnya, kami berempat tidak memiliki masalah dengan biaya 1,8 juta rupiah perorang tersebut. Tapi entahlah, rasanya tidak tega juga membiarkan mereka tidak ikut terbang bersama kami bulan Januari mendatang. Dan untuk itu, kami terfokus untuk menembuskan proposal permohonan bantuan dana ini secepat mungkin.

Berikut uneg-unegan kami yang terlontar begitu saja…

Emno (sekretaris) : “Gawat, Pak Jurkani dah pulkam !!! Mana belum minta ttd sidin. Rumah Ka Ahmad (ketum) and Bu Rostini (pendamping) juga nggak tau !! Mana latar belakangnya diedit lagi. Sumber dana, anggaran dan rekapitulasi juga dirombak abiez. Belum lagi susunan kepanitiaan, mesti disusun ulang !!! Deuuh, mana tinta warna printerku habis…”

Bayhaqi (ketuplak) : “Eh, tujuan proposalnya kemana aja ? List donaturnya mana ?? Terus masalah DP yang 180 ribu itu nggak jadi waktu masuk skul, kata kakaknya secepatnya. Tazah, kamu sms-i temen-temen yang lain buat kumpul hari Senin ! Kenapa Em ? Stempel panitia kah ? Ada di tempat Ka Hel (sekretaris umum), kena jam 3 kita kesana. Ya, halo, apa say ??? Kita putus !?”

Tazah (waketuplak) : “Bay nih mambari muar, pacul tau jempolku nge-zmzi bagiannya. Apa Em ? Tanda tangan Bu Maili (pendamping) kah ? Esok ja gen, hari ini aku kaga sanggup lagi. Eh tau nggak, aku nggak diizini ortu ku buat ikut latihan seleksi Popda malam ini. Hah ! Nggak bikin keki kagak tuh, aku udah capek-capek mohon tetep aja mereka berdua tuh kaga ngasih izin. Sakit hati tau kada aku lawan orang-orang rumah tuh. Hiks…hiks…”

Ali (koordinator humas) : “Tazah, proposal basket buhan kamu udah kelar kah ? Tenang aja, aku juga lagi musingin masalah baju diklat paskib nah. Sebulan sudah kada jadi-jadi jua bajunya. Aku nih mauk buhannya ai, tiap hari, kada siang kada malam kesana, ada-ada aja alasannya tuh. Rasa handak kucincang haja si tua bangka tuh !!!” Sabar…sabar…

Huff, berat banget rupanya. Doain kami yah supaya semuanya bisa berakhir dengan senyuman.

Jumat, September 12, 2008

Sahabat, Goresan Ini Untukmu


Cerita ini berawal dari perbincangan kami, siswa-siswa S’PadA (XI IPA 2) dengan ibu Endang, pengajar kimia kami, mengenai sebuah rutinitas sekolah dengan perencanaan yang besar, study tour.

Bisa dibilang ini adalah sambungan dari tulisan ‘Perjuangan Kami Untuk Terbang’ pada rubrik curhat edisi kemarin. Sudah saya katakan bahwa study tour adalah kegiatan yang sangat menguras, pikiran dan uang. Nah, pembeda tulisan ini dari yang kemarin adalah sudut pandangnya. Jika pada ‘Perjuangan Kami Untuk Terbang’ saya memaparkan masalah yang mengendala secara global, di sini kita hanya akan membicarakan tentang biaya.

“Menurut pengalaman ibu, setiap tahun kelas XI IPA 2 lah yang paling bermasalah dalam kegiatan study tour.”

Begitulah, Ibu Endang bercerita di tengah-tengah pelajaran kimia. Bukan keluhan, tapi lebih tepat disebut curhat sepertinya. Dan dalam sudut pandang sendiri, seperti itulah kenyataannya. Karena memang ada hampir sepuluh orang dari anggota kelas kami yang sudah mengancang-ancang untuk tidak ikut serta. Kendalanya, biaya.

“Ibu mengerti kalau beberapa di antara kalian tidak mampu membayar ongkos perjalanan kita nanti. Adalah hal yang wajar bagi ibu. Tapi kalau kalian tidak ikut study tour akan sangat disayangkan. Kenapa ? Karena di sana nanti, kita tidak hanya akan memperdalam materi yang sudah diberikan di sekolah, tapi kita juga akan mempelajari sisi lain dari kehidupan. Oleh sebab itulah, ibu berharap, sangat berharap, kalian-kalian yang tidak terkendala biaya agar bisa menyisihkan sedikit dari uang jajan kalian untuk membantu teman-teman kita yang mengalami masalah dana.”

Kata-kata lembut Bu Endang benar-benar membekas dalam diri saya. Membuat saya teringat pada seorang teman yang bercerita bahwa dia benar-benar tidak punya uang untuk terbang.

Ahh, andai aku bisa membantumu, sahabat.

Minggu, Agustus 31, 2008

Perjuangan Kami untuk Terbang


Study tour, tentunya setiap sekolah menengah atas di seluruh pelosok Indonesia mencanangkannya dalam agenda tahunan. Meneliti objek-objek pentimg di luar pulau, menikmati panorama yang mungkin masih terlalu asing bagi mata, hingga study banding ke universitas terkenal. Itu semua adalah bagian tak terpisahkan dari kata study tour.
Menyenangkan sekali mendengar hal demikian. Tapi, apakah kenyataan dalam kehidupan memang seperti seulas kata-kata, mengalir tanpa beban yang terfikir ?
Sayangnya, kenyataan tidak semudah demikian. Secara pribadi, sumber dana untuk melakukannya tidaklah sedikit, dan tidak mudah mendapatkannya. Mulai dari merencanakan keberangkatan, kegiatan-kegoatan yang akan dilakukan hingga pengajuan proposal ke berbagai pihak, berharap ada kemurahan hati yang bisa didapat dari para dermawan.
Lelah, penat, terfosirnya pikiran dan tenaga, jangan tanyakan hal itu lagi pada kami. Meskipun ini tidak akan mudah, tapi tekad yang tertancap takkan pernah lenyap.
Support kami, dengan doa dan kemurahan hati kalian.

Senin, Agustus 18, 2008

Paskibra, Ksatria Bendera


Melihat bendera yang berkibar megah di ujung tiang tentunya akan membawa kita pada mereka yang menaikkannya, pasukan pengibar bendera. Barisan yang rapi, gerakan-gerakan yang terkoordinasi dengan baik dan kelantangan suara adalah image yang takkan bisa terlepaskan dari mereka. Lalu, apakah hanya itu kesan yang ditorehkan para anggota paskibra ?

Sebagai seorang anggota paskibra di sekolah, tentunya apabila ditanya mengenai hal demikian saya akan menggelengkan kepala. Kedisiplinan, kerja sama, ketangguhan fisik dan mental, itu semua adalah suatu kemutlakan yang pasti dimiliki seorang anggota paskibra. Tanpa ada kedisiplinan dan kerjasam, jangan harap akan tercipta barisan yang rapi dan teratur. Tanpa adanya ketahanan fisik dan mental, tak akan mungkin sang merah putih berkibar pada tempatnya di ketinggian. Tanpa ada pasukan pengibar bendera, tak akan pernah ada bendera yang berkbar.

Oleh karenanya, salahkah saya jika menyatakan bahwa paskibra adalah ksatria bendera ?

Minggu, Juli 13, 2008

Santri = Malaikat ???


Pendapat yang terlalu mengagungkan, make proud dan nggak salah juga kalau dikatakan menyudutkan. Santri adalah penjelmaan dari malaikat, benarkah ???

Jika saya ditanya demikian gelengan kepala lah yang akan menjawabnya. Tidak setuju, sangat tidak setuju. Bukan karena tidak suka pada golongan ini saya menyatakan demikian, tetapi justru karena lima tahun yang saya geluti dalam status demikian.

Jangan anggap santri itu suci, jangan anggap mereka tak berdosa, karena bagaimanapun santri tetaplah manusia, makhluk yang hadir dengan takdir ‘bermasalah’.

Saya menuliskan ini bukan untuk tujuan provokasi, melainkan untuk mewakili suara para santri yang selama ini saya temani, sayangi dan tentunya banggakan. Santri bukanlah malaikat yang hidup tanpa dosa. Mereka bisa tersalah, mereka bisa berbuat pelanggaran, mereka juga punya hasrat untuk maju seperti kalian. Jangan kucilkan mereka atas semua dosa yang terlaku, karena setiap orang punya caranya sendiri untuk melalui kehidupan, menuju arah yang terbaik.

Santri adalah santri, no more, no less.