eM-Saying
Sabtu, Maret 06, 2010
30 Menit....
Minggu, Oktober 25, 2009
Hidup Yang Kian Sesak
Rabu, September 09, 2009
Seberharga Sekeping Perak
Jumat, Agustus 28, 2009
Malaysia... Malaysia...
Sabtu, Agustus 22, 2009
My Proud Day
Sabtu, Agustus 01, 2009
Kelas Baru, Jabatan Baru
Selasa, November 25, 2008
Sebuah Nama Sebuah Cerita
Selasa, Oktober 28, 2008
Ada Apa Dengan Blogger ?
Minggu, Oktober 12, 2008
Aku Resmi Seventeen
Jangan lewatkan momen berhargamu saat semua belenggu yang mengikat terlepas dan semua kekangan mereda.
Tujuh belas tahun, akhirnya saya yang dulunya masih menangis-nangis di ayunan kini telah menapakinya. Senang, tentunya. Bahagia, sepertinya tak ada kata yang bisa mewakili. Surprise, mungkin. Yang pasti, saat kalender bulan Oktober melewatkan angka delapan akhirnya saya bisa memulai kehidupan dengan angka 17_^
Berbeda dari anak-anak lain yang ultah ketujuh belas mereka dirayakan, saya hanya melewatinya seperti hari-hari biasa. Tak ada undangan pesta, tak ada kue ulang tahun, dan tentunya tak ada senandung ‘tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga’.Meski begitu, saya merasa semua orang terdekat merayakan hari bersejarah bagi saya itu dengan cara mereka sendiri-sendiri.
Dimulai saat jam menunjukkan pukul enam pagi. Satu sms masuk, dari seseorang yang pernah menemani hari-hari saya meski dari seberang pulau, Icha. Yang ditulisnya hanya lagu Happy Birthday, tapi itu sudah membuat hari saya diawali dengan senyuman. Saat di sekolah juga banyak yang ngucapin selamat ultah, waktu ditanya mana kadonya cuma dapet jawaban ‘tahun depan aja, ‘lagi kere’, ‘hadiahnya doa aja ya’, dll. Low temen-temen satu geng lain lagi, mereka malah ngasih olok-olokan yang lebih banyak dari hari biasanya_^Waktu pulang skul Ali ngasih kado juga, ‘buah nanas di atas pu un, eM bungas met ulang tahun’ begitu katanya, bikin semua anak yang denger jadi pada protes_^(sirik aja, nggak bisa liat orang seneng apa). Ada yang ngasih ucapan selamet di detik-detik terakhir tanggal delapan, ada juga yang ngucapinnya waktu udah tanggal sembilan. N untuk kado yang gambarnya ada di atas, itu dikasih sama Zaida n Tazah.
Oh iya, ada yang spesial banget di ulang tahun kali ini, karena ternyata tanggal, bulan dan tahun ultah saya sama persis dengan Tazah, jadi ya sama-sama ngucapin selamat ulang tahun deh_-
Udah dulu ah, buat yang berhalangan ngasih hadiah tinggalin komentarnya aja ya, biar entar nggak ditagih lagi…
Akhirnya Bisa Bernafas Lagi
Proposal buat study tour kelar!!!!!!!!!!!!
Huff, senengnya. Setelah tiga puluh hari di bulan Ramadhan yang penuh dengan perjuangan berat, akhirnya kami berlima (saya, Bayhaqi, Tazah, Bayu dan Fuad) bisa ngerefreshin diri lagi dari semua tugas buat pencarian dana tambahan.Nggak perlu lagi melototin komputer sampe jam 10 malam cuma buat ngehapus apa yang udah dirancang selama berhari-hari. Nggak ada lagi smsm bernada ‘cepetan ke skul, ada masalah penting yang mau diomongin!’. Nggak penting lagi berburu ttd semua pihak yang bertanggung jawab sama proposalnya. Dan tentunya nggak bakalan sering-sering lagi buat ngunjungin pom bensin.
Nah, karena semua yang udah dilewatin dirasa terlalu berharga untuk dilewatkan, akhirnya setelah pertemuan terakhir kami sepakat buat jalan-jalan ke HERO. Setelah masing-masing ngabisin 15.000 di Fun City, kami berlima sepakat buat nukerin tiket yang didapat sama gelang persahabatan yang fotonya nangkring di atas sana _^
Meski hanya punya waktu 1 minggu sebelum dan seusai lebaran buat bikin kepala kembali blank, tapi rasanya sepi juga nggak bisa ngebanyol, ketawa, kelaperan, ngomel-ngomel nggak karuan bersama mereka berempat. Dan saat sekolah masuk lagi, keceriaan itu akhirnya datang lagi.
“Em, cepet sholat isya!”
Yah, berhubung si kakak yang bawel udah ngegedor pintu, diterusin nanti aja deh curhatannya. Yang jelas nggak lama lagi kami berlima bakal kembali sibuk…
Rabu, September 24, 2008
Lika-Liku Kami Berempat
Tiga minggu sudah berlalu dari bulan Ramadhan. Seharusnya ini merupakan waktu liburan panjang yang mesti dilewatkan dengan bermalas-malasan (seperti dulu waktu saya masih berstatus sebagai santri_-). Karena meskipun masih ada bimbel fisika dan kimia di sekolah, kami terbebas dari segala pelajaran (jangan dihitung tugas Ramadhannya yah_^). Tapi kenyataannya tidak begitu. Di bulan ini tenaga kami berempat – saya, Bayhaqi, Tazah dan Ali – benar-benar terforsir habis. Masalahnya tidak lain dan tidak bukan, study tour.
Benar-benar memusingkan untuk mencari penutup dari kekurangan dana di kelas kami yang mencapai 10 juta rupiah. Sebuah nilai yang besar karena memang ada 9 orang siswa yang terkendala dana. Sebenarnya, kami berempat tidak memiliki masalah dengan biaya 1,8 juta rupiah perorang tersebut. Tapi entahlah, rasanya tidak tega juga membiarkan mereka tidak ikut terbang bersama kami bulan Januari mendatang. Dan untuk itu, kami terfokus untuk menembuskan proposal permohonan bantuan dana ini secepat mungkin.
Berikut uneg-unegan kami yang terlontar begitu saja…
Emno (sekretaris) : “Gawat, Pak Jurkani dah pulkam !!! Mana belum minta ttd sidin. Rumah Ka Ahmad (ketum) and Bu Rostini (pendamping) juga nggak tau !! Mana latar belakangnya diedit lagi. Sumber dana, anggaran dan rekapitulasi juga dirombak abiez. Belum lagi susunan kepanitiaan, mesti disusun ulang !!! Deuuh, mana tinta warna printerku habis…”
Bayhaqi (ketuplak) : “Eh, tujuan proposalnya kemana aja ? List donaturnya mana ?? Terus masalah DP yang 180 ribu itu nggak jadi waktu masuk skul, kata kakaknya secepatnya. Tazah, kamu sms-i temen-temen yang lain buat kumpul hari Senin ! Kenapa Em ? Stempel panitia kah ? Ada di tempat Ka Hel (sekretaris umum), kena jam 3 kita kesana. Ya, halo, apa say ??? Kita putus !?”
Tazah (waketuplak) : “Bay nih mambari muar, pacul tau jempolku nge-zmzi bagiannya. Apa Em ? Tanda tangan Bu Maili (pendamping) kah ? Esok ja gen, hari ini aku kaga sanggup lagi. Eh tau nggak, aku nggak diizini ortu ku buat ikut latihan seleksi Popda malam ini. Hah ! Nggak bikin keki kagak tuh, aku udah capek-capek mohon tetep aja mereka berdua tuh kaga ngasih izin. Sakit hati tau kada aku lawan orang-orang rumah tuh. Hiks…hiks…”
Ali (koordinator humas) : “Tazah, proposal basket buhan kamu udah kelar kah ? Tenang aja, aku juga lagi musingin masalah baju diklat paskib nah. Sebulan sudah kada jadi-jadi jua bajunya. Aku nih mauk buhannya ai, tiap hari, kada siang kada malam kesana, ada-ada aja alasannya tuh. Rasa handak kucincang haja si tua bangka tuh !!!” Sabar…sabar…
Huff, berat banget rupanya. Doain kami yah supaya semuanya bisa berakhir dengan senyuman.
Jumat, September 12, 2008
Sahabat, Goresan Ini Untukmu

Cerita ini berawal dari perbincangan kami, siswa-siswa S’PadA (XI IPA 2) dengan ibu Endang, pengajar kimia kami, mengenai sebuah rutinitas sekolah dengan perencanaan yang besar, study tour.
Bisa dibilang ini adalah sambungan dari tulisan ‘Perjuangan Kami Untuk Terbang’ pada rubrik curhat edisi kemarin. Sudah saya katakan bahwa study tour adalah kegiatan yang sangat menguras, pikiran dan uang. Nah, pembeda tulisan ini dari yang kemarin adalah sudut pandangnya. Jika pada ‘Perjuangan Kami Untuk Terbang’ saya memaparkan masalah yang mengendala secara global, di sini kita hanya akan membicarakan tentang biaya.
“Menurut pengalaman ibu, setiap tahun kelas XI IPA 2 lah yang paling bermasalah dalam kegiatan study tour.”
Begitulah, Ibu Endang bercerita di tengah-tengah pelajaran kimia. Bukan keluhan, tapi lebih tepat disebut curhat sepertinya. Dan dalam sudut pandang sendiri, seperti itulah kenyataannya. Karena memang ada hampir sepuluh orang dari anggota kelas kami yang sudah mengancang-ancang untuk tidak ikut serta. Kendalanya, biaya.
“Ibu mengerti kalau beberapa di antara kalian tidak mampu membayar ongkos perjalanan kita nanti. Adalah hal yang wajar bagi ibu. Tapi kalau kalian tidak ikut study tour akan sangat disayangkan. Kenapa ? Karena di sana nanti, kita tidak hanya akan memperdalam materi yang sudah diberikan di sekolah, tapi kita juga akan mempelajari sisi lain dari kehidupan. Oleh sebab itulah, ibu berharap, sangat berharap, kalian-kalian yang tidak terkendala biaya agar bisa menyisihkan sedikit dari uang jajan kalian untuk membantu teman-teman kita yang mengalami masalah dana.”
Kata-kata lembut Bu Endang benar-benar membekas dalam diri saya. Membuat saya teringat pada seorang teman yang bercerita bahwa dia benar-benar tidak punya uang untuk terbang.
Ahh, andai aku bisa membantumu, sahabat.
Minggu, Agustus 31, 2008
Perjuangan Kami untuk Terbang

Menyenangkan sekali mendengar hal demikian. Tapi, apakah kenyataan dalam kehidupan memang seperti seulas kata-kata, mengalir tanpa beban yang terfikir ?
Sayangnya, kenyataan tidak semudah demikian. Secara pribadi, sumber dana untuk melakukannya tidaklah sedikit, dan tidak mudah mendapatkannya. Mulai dari merencanakan keberangkatan, kegiatan-kegoatan yang akan dilakukan hingga pengajuan proposal ke berbagai pihak, berharap ada kemurahan hati yang bisa didapat dari para dermawan.
Lelah, penat, terfosirnya pikiran dan tenaga, jangan tanyakan hal itu lagi pada kami. Meskipun ini tidak akan mudah, tapi tekad yang tertancap takkan pernah lenyap.
Support kami, dengan doa dan kemurahan hati kalian.
Senin, Agustus 18, 2008
Paskibra, Ksatria Bendera

Melihat bendera yang berkibar megah di ujung tiang tentunya akan membawa kita pada mereka yang menaikkannya, pasukan pengibar bendera. Barisan yang rapi, gerakan-gerakan yang terkoordinasi dengan baik dan kelantangan suara adalah image yang takkan bisa terlepaskan dari mereka. Lalu, apakah hanya itu kesan yang ditorehkan para anggota paskibra ?
Sebagai seorang anggota paskibra di sekolah, tentunya apabila ditanya mengenai hal demikian saya akan menggelengkan kepala. Kedisiplinan, kerja sama, ketangguhan fisik dan mental, itu semua adalah suatu kemutlakan yang pasti dimiliki seorang anggota paskibra. Tanpa ada kedisiplinan dan kerjasam, jangan harap akan tercipta barisan yang rapi dan teratur. Tanpa adanya ketahanan fisik dan mental, tak akan mungkin sang merah putih berkibar pada tempatnya di ketinggian. Tanpa ada pasukan pengibar bendera, tak akan pernah ada bendera yang berkbar.
Oleh karenanya, salahkah saya jika menyatakan bahwa paskibra adalah ksatria bendera ?
Minggu, Juli 13, 2008
Santri = Malaikat ???
Pendapat yang terlalu mengagungkan, make proud dan nggak salah juga kalau dikatakan menyudutkan. Santri adalah penjelmaan dari malaikat, benarkah ???
Jika saya ditanya demikian gelengan kepala lah yang akan menjawabnya. Tidak setuju, sangat tidak setuju. Bukan karena tidak suka pada golongan ini saya menyatakan demikian, tetapi justru karena lima tahun yang saya geluti dalam status demikian.
Jangan anggap santri itu suci, jangan anggap mereka tak berdosa, karena bagaimanapun santri tetaplah manusia, makhluk yang hadir dengan takdir ‘bermasalah’.
Saya menuliskan ini bukan untuk tujuan provokasi, melainkan untuk mewakili suara para santri yang selama ini saya temani, sayangi dan tentunya banggakan. Santri bukanlah malaikat yang hidup tanpa dosa. Mereka bisa tersalah, mereka bisa berbuat pelanggaran, mereka juga punya hasrat untuk maju seperti kalian. Jangan kucilkan mereka atas semua dosa yang terlaku, karena setiap orang punya caranya sendiri untuk melalui kehidupan, menuju arah yang terbaik.
Santri adalah santri, no more, no less.


