eM-Saying

Akhirnya, bisa balik lagi setelah sekian abad bertapa di rumah^Silakan comment ya, ntar dibales kok
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, Agustus 28, 2009

Malaysia... Malaysia...


Malaysia, negeri tetangga yang tidak pernah bisa lepas dari berita hangat negeri ini. Ya, Malaysia yang dulunya kita anggap sebagai saudara sekali itu saat ini terus-menerus ‘menjajah’ Indonesia tercinta.
Tentunya kita semua masih ingat dengan peristiwa blok Ambalat, suatu peristiwa yang sangat mengusik keperkasaan tanah air pusaka. Saat itu, pihak negeri tetangga dengan seenaknya masuk wilayah Indonesia, tanpa izin, tanpa permisi, tanpa yang namanya sopan santun bertetangga.
Flash back lagi, siapakah yang tanpa muka mengatakan bahwa lagu Rasa Sayange itu adalah miliknya ??? Siapa lagi kalau bukan Malaysia. Walaupun sebenarnya saya sendiri belum pernah mendengar lagu itu sebelum dinyanyikan para Malay(menyedihkan sebenarnya), saya merasa sangat dihina sebagai seorang Indonesia ketika mereka mengakui kepemilikan lagu tersebut.
Belum lagi pengklaiman Malay terhadap batik, reog ponorogo dan kebudayaan Indonesia lainnya sebagai budaya mereka. Ayolah, bukankah negeri itu sudah makmur, mengapa mesti mengusik kepemilikan orang lain sih. Saya pribadi tidak bisa menyalahkan negeri ini yang tidak mematenkan budaya sendiri, karena sejak kapan ada budaya yang dipatenkan?
Malaysia… Malaysia, sebegitu miskinnya kah kalian hingga mengusik ketentraman tetanggamu sendiri ???

Selasa, November 25, 2008

Sebuah Nama Sebuah Cerita

Apalah arti sebuah nama.
Ya, tentunya kita pernah mendengar kalimat tersebut, baik hanya sepintas atau dalam suatu pembicaraan serius. Sebuah pernyataan yang nampaknya sangat kontra dengan keberadaan sebuah nama. Jika memang demikian, apakah nama itu tak pernah lebih dari suatu inisial ?
Saya pribadi tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Bayangin aja, saya yang ditakdirkan lahir sebagai seorang laki-laki, di mana pada saat pemberian nama udah menghabiskan dua ekor kambing, mana mungkin menerima ‘apalah arti sebuah nama’ tersebut ? Tidak setuju, sangat tidak setuju.
Anonim, tak bernama, keberadaan yang tak pernah ada, sekilas sepertinya itu merupakan hal yang mengagumkan. Tapi tak mungkin sebuah nama tercipta tanpa makna di dunia ini. Semuanya memiliki rahasia, semuanya memiliki cerita, semuanya memiliki kenangan yang mungkin tak pernah sempurna.
Sebagai contoh adalah Muhammad Noor (nama saya sendiri_^), yang berarti cahaya sang nabi. Itu baru arti secara harfiah bahasa Arab, belum lagi arti tersembunyi dari nama saya tersebut yang didapat dari PR mas Erik buat saya yang ada di sini. Dari pe er itu saya menjadi semakin sadar terhadap dalamnya makna suatu nama. Saya bangga dengan nama saya (yang ternyata masuk kategori A), dan Anda juga mesti bangga dengan nama yang ditakdirkan untuk menjadi bagian dari hidup Anda.
Url dan title blog ini juga memiliki maknanya tersendiri. Http://imrex2.blogspot.com. Imrex2 itu sebenarnya adalah penjelmaan dari ‘I am rex’, di mana artinya adalah aku seorang raja. Angka 2 yang ikutan nangkring di situ adalah inisial dari plural. Rainturb, rain = hujan (English) dan turb = tanah (Arabic), yang penggabungannya saya maksud dengan badai pasir. Ya, badai pasir yang gelisah akan kehadiran tetes-tetes bening menyejukkan yang ditakdirkan untuk mendamaikannya.
Memang, ini semua tentang nama, hanya tentang nama. Karena dalam sebuah nama, terdapat sebuah cerita.

Selasa, November 11, 2008

Arti dari Sebuah Kesalahan

Tak akan pernah ada yang sempurna, di dunia ini, karena kesempurnaan hanya milik-Nya. Nampaknya tidak ada kata yang dapat menentang kalimat tersebut, seindah apapun itu.
Sebagai seorang manusia, insan, naas, yang menurut arti secara harfiahnya adalah lupa, merupakan suatu hal yang wajar bagi kita untuk melakukan kesalahan. Hal itu tidak lepas dari takdir yang menyatakan bahwa manusia adalah tempat khilaf dan dosa.
Bertitik tolak dari pemikiran di atas, bisa dipastikan bahwa tidaklah mungkin seseorang, sesuci apapun itu, tak pernah melakukan kesalahan. Lepas dari pernyataan bahwa 'tak mungkin adalah suatu hal yang tak mungkin'.
Percaya atau tidak, kesalahan yang pernah terlaku di masa lampau akan mendatangkan efek positif, meskipun itu tergantung pada individunya sendiri. Karena kesalahan itu tentunya bisa menjadi bahan pembelajaran, bahkan mungkin guru, yang akan sangat membekas dalam ingatan.
Yang terpenting, kesalahan jangan diimejkan sebagai suatu sosok hitam, yang gelapnya selalu mendinding cahaya terang. Hadapi saja tanpa beban, hadapi dengan kesiapan mental. Karena kemanapun kita berlari membelakanginya, kesalahan itu akan terus membayang. Karena kesalahan itu sendiri merupakan kebutuhan yang ditakdirkan untuk menyertai garis hidup.

Selasa, Oktober 28, 2008

Saat Persahabatan Hanya Sekedar Hitam Di Atas Putih



Sahabat adalah orang yang paling mengerti siapa kita. Sahabat adalah orang yang mau berbagi saat suka maupun duka. Sahabat adalah tempat berpijak saat semuanya meninggalkan. Bahkan sahabat bisa dikatakan sebagai separuh dari jiwa kita. Keberadaannya tak lepas dari ungkapan bahwa ‘Persahabatan itu laksana mata dengan tangan. Saat mata terasa perih tangan akan melindunginya, dan pada saat tangan terluka mata ikut menangis karenanya’.
Indah, memang. Dan seego-egonya seseorang tak mungkin dia tidak memiliki seorang sahabat. Tapi bagaimana jika semua itu hanya menjadi lukisan tanpa makna belaka ? Bagaimana jika persahabatan itu sekedar cerita yang tak pernah sempurna ? Saat yang tersisa hanya pengkhianatan terhadap semua yang telah terlewati bersama ?
Di dunia ini tak ada yang sempurna, karena memang kesempurnaan itu hanya milik-Nya. Sebagai makhluk yang diciptakan dengan disertai oleh khilaf dan dosa memang sudah sewajarnya bagi kita untuk melakukan suatu kesalahan, terlepas dari apa kesalahan kita tersebut. Tapi untuk kata sahabat, kesalahan yang pernah terlakukan tentunya akan begitu membekas di hati. Menjadi titik noda yang teramat sulit untuk dapat dihilangkan. Kecewa, sudah pasti. Bahkan bukan hal yang mustahil tak akan ada lagi hubungan di antara kedua insan tersebut.
Yah, terlalu larut dalam kesedihan juga bukan tindakan yang dapat dibenarkan. Masih ada hari esok yang menyimpan terlalu banyak misteri. Tak perlu terperangkap dalam penyesalan atas penghitam-putihan persahabatan yang telah menjadi cerita tak terlupakan itu. Memang bukan yang terbaik, tapi mungkin ini bisa menjadi momen sempurna untuk mencapai titik pendewasaan.
Untukmu, sahabat, tulisan ini kugoreskan,,,,

Haruskah Mereka Terkisah Sebagai Bayangan Hitam ???



Pecandu narkoba sudah bukan hal yang unik lagi di kalangan masyarakat negeri ini. Bahkan lebih dari setengah pengkonsumsinya adalah kalangan remaja. Saat mengetahui bahwa teman kita sendiri adalah seorang konsumen narkoba, apa yang mesti kita perbuat ?
Saya yakin tanggapan yang akan terlontar adalah menjauhi individu tersebut. Tujuannya, tidak lain adalah untuk menghindari terpengaruhnya kita dengan mereka. Tapi apakah itu sudah merupakan tindakan yang tepat ?
Kebanyakan dari remaja pengguna narkoba adalah mereka-mereka yang haus akan perhatian dan kasih saying orang tuanya. Egois jika kita meninggalkan mereka begitu saja dalam ruang kekelaman tanpa ada usaha untuk membantunya keluar dari permasalahan. Setidaknya kita selalu berada di samping mereka saat keterpurukan menghadang. Tapi, jika memang terlalu beresiko untuk berhubbungan, adalah hal mutlak untuk memprioritaskan diri kita sendiri.
Yah, mereka mungkin sudah terlalu hitam, tapi tak pernah ada noda yang tidak bisa terhapus di dunia ini.

Rabu, September 24, 2008

Kenangan Itu…


Duduk di teras rumah, ini adalah hal yang meskipun tidak termasuk kategori sangat disukai, merupakan kebiasaan yang menyenangkan bagi saya. Biasanya saya melakukan rutinitas ini setelah shalat Ashar, waktu santai yang benar-benar luang untuk bernostalgia. Tak ada beban, tak ada paksaan, hanya saja ada sedikit pemandangan yang terasa kurang nyaman, sebuah sepeda motor butut bermerk Alfa produksi Yamaha tahun 90-an.

Jujur, abah saya sepertinya sangat menyayangi tunggangannya yang satu ini. Terbukti setelah abah membeli motor baru, kendaraan butut itu masih tetap setia menemani hari-harinya. Saya pribadi sebenarnya sudah menyarankan untuk menjual motor tersebut. Tapi entahlah, abah selalu saja menolak. Yang membuat saya semakin heran, meskipun sudah ditawar orang dengan harga tinggi (untuk ukuran sebuah motor butut) abah tetap pada pendiriannya.

“Motor ini sama umurnya dengan kamu. Sudah hampir 17 tahun abah hidup dengannya,” itulah yang terdengar saat aku menanyakan alasan abah yang tetap mempertahankan motornya. Saat itu, aku hanya mengangkat bahu.

Beberapa minggu yang lalu, seusai bimbel di bulan Ramadhan, seorang teman menegurku. “Em, kenapa sih gantungan hp dari mantan kamu itu (yang sekarang sudah hilang karena sebuah insiden kecelakaan yang saya alami dan saya amat sangat menyesali kehilangan itu) masih dipake, bukannya kalian udah putusan ?”

Saya terdiam menanggapi pertanyaan itu, dengan bahu terangkat.

Setibanya di rumah saya tidak langsung pergi ke kamar. Kulihat abah juga baru saja memarkirkan motornya.

“Em, kenapa sih gantungan hp dari mantan kamu itu masih dipake, bukannya kalian udah putusan ?”

Kalimat itu terngiang lagi. Kulihat tali yang bergantungan di hpku, untuk kemudian menatap motor butut di depan sana, dengan selukis senyum.

Kenangan, mungkin tak ada yang pantas mendefinisikannya. Tapi ia akan selalu hadir, bersama insan yang ditakdirkan untuk menjaganya.

Jumat, September 12, 2008

Filosofi Kita Sebagai Sebatang Lidi


Jangan bilang bahwa kalian tidak tahu dengan yang namanya lidi. Panjang, kurus dan rapuh. Sepertinya deskripsi sederhana itu sudah lebih dari cukup untuk memberikan gambaran pada kita mengenai sebatang lidi.

Bersatu kita teguh, bercerai kita rapuh. Tidak bisa dipungkiri, kalimat itu adalah skenario dasar dalam hidup. Tentu kita tahu mengenai sumpah pemuda dan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kedua langkah penting untuk mencapai Indonesia yang seperti sekarang ini tentunya bukan hanya buah dari satu orang, melainkan perjuangan besar dengan kebersamaan yang juga besar.

Di masa kini, organisasi sepertinya adalah misal yang konkret dan mendasar. Suatu organisasi, sekecil apapun itu, tersusun dari sistem yang saling terkait. Bukan hanya empat, atau mungkin tiga orang, tapi juga didukung oleh sub-sub yang lain, yang kesemuanya itu menjalankan mekanisme kerja sebuah organisasi. Bayangkan saja apabila ada satu bagian dari mekanisme tersebut yang tidak berjalan. Atau yang lebih parah lagi. Coba bayangkan jika hanya ada satu dua orang yang aktif dan serius dalam organisasi sedangkan yang lain hanya diam menonton. Camkan ini, mereka berdua hanya akan menjadi sebatang lidi yang rapuh. Mereka akan hancur, dan satu kehancuran itu akan menyeret kehancuran lain untuk berdatangan.

Sebagai makhluk sosial, kita pasti akan menjadi bagian dari suatu mekanisme dasar, masyarakat. Dan untuk menjalaninya kita mendapat dua pilihan, apakah bersatu dengan ‘lidi’ yang lain ataukah mengambil takdir sebagai sebatang lidi.

Senin, September 01, 2008

The Best Month


Ramadhan, bulan penuh berkah, rahmah dan maghfirah yang pastinya takkan pernah lepas dari ingatan setiap kaum muslimin di seluruh pelosok dunia. Soal pahala, jangan ditanya lagi. Pahala ibadah-ibadah sunat yang disetarakan dengan ibadah wajib, penglipatgandaan dari 27 hingga tanpa batas. Siang hari yang dihias oleh lapar dan dahaga tak terkata, hingga malam-malam nan merdu dengan iringan dan lantunan ayat-ayat suci yang dikumandangkan dari jutaan menara masjid dan langgar. Bagaimanapun, ini adalah sebuah keberadaan yang teramat menggetarkan hati.
Bulan Ramadahan ini mungkin akan berlalu tanpa nada bagi mereka yang tak mengindahkannya, tapi juga akan membekas di dalam sanubari terdalam bagi mereka yang mengeksploitasi kandungan di dalamnya. Kini, tergantung kita, apakah ingin menjadi golongan terbaik atau terbelakang.

Senin, Agustus 18, 2008

Sudah Merdekakah Kita ?


17 Agustus 1945 _

Pagi yang cerah, sedikit terik dengan sengatan matahari yang cukup membara. Pemandangan di ujung sana menyosokkan ratusan orang yang menyesaki sebuah halaman. Mereka semua menunggu waktu yang sudah diimpikan sejak 300 tahun silam.

“Atas nama Indonesia, Soekarno-Hatta.”

Tepuk tangan dan gegap gempita memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

17 Agustus 2008­_

Ratusan orang memadati Istana Merdeka di Jakarta. Iring-iringan dari pasukan pengibar bendera pusaka menciptakan konfigurasi yang menggetarkan hati. Pasukan Mutiara mengantarkan sang merah putih ke puncak tertinggi. Paduan suara mengangkasakan Indonesia Raya.

“Tegak…, grak !”

Ya, 63 tahun sudah bangsa ini terbebas dari penjajahan. Akan tetapi, sudah merdekakah kita ? Mengingat ting kesejahteraan rakyat yang terlalu memprihatinkan. Mengingat ketergantungan kita pada dunia barat. Dan mengingat segala hal yang merampas kemerdekaan kita di tengah kemerdekaan ini.

Katakan satu hal, aku bangga menjadi Indonesia.

Semangat Kemerdekaan


Semangat nasionalisme merupakan hal yang sangat diperlukan untuk membangun bangsa Indonesia. Hal ini sangat diperlukan terutama oleh generasi muda yang akan memikul negara ini di masa depan. Hanya saja saat ini kebanyakan dari para generasi muda telah kehilangan rasa nasionalismenya. Kita perlu membangkitkan rasa nasionalisme itu. Penting bagi kita untuk menjadi generasi muda yang bangga akan negaranya dan dapat dibanggakan oleh negara.

Mari kita tengok sebentar perlombaan yang tak bisa lepas dari pesta kemerdekaan, panjat pinang. Saya rasa tidak begitu penting menjelaskan kronologi permainan tersebut. Yang patut kita renungkan, mengapa beberapa orang yang meskipun sudah berjejer sempurna semuanya belum setara dengan tinggi pinang mampu meraih puncak ?

Semangat, itulah jawabannya. Dan untuk mengantarkan Indonesia tercinta ke puncak dunia, semangat nasionalisme ada;ah kuncinya.

Minggu, Juli 13, 2008

Sepenggal Tentang Cinta




Cinta, satu kata ringan yang sebenarnya memiliki arti terlalu kompleks. Dalam satu kata cinta, bisa kita temukan jutaan kisah haru dan menyenangkan. Dengan kata cinta, keadaan yang belum pernah kita pikirkan ini bisa tercipta. Dan bersama kata cinta lah, kehidupan diberikan kekuatan untuk menghampiri sosok-sosok penghuni semesta raya.

Dalam kehidupan yang selama ini kita lalui, ada sangat banyak cinta yang pernah singgah. Adanya kita saat ini, prestasi-prestasi yang mampu kita raih, sepoian angin yang begitu lembut, semua itu adalah sedikit penjelmaan dari ‘cinta’. Tapi pernahkah kita sekali saja, merenungkan apakah ‘cinta’ itu ? Apakah ia adalah suatu cahaya kuning keemasan yang terseok-seok meentangkan sayapnya di ketinggian atmosfer sana ? Ataukah cinta itu berbentuk panah gaib yang tak kasat mata yang muncul dan terbenam dalam hati ?

Pada roda masa ini, cinta memegang peran puncak dari segala rantai keberadaan. Tanpa menafikan semua yang telah terjadi, kita bisa terlahir di dunia ini karena adanya cinta. Indahnya panorama alam yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita ada karena cinta. Burung merpati bisa memiliki bulu yang bersih, rinainya hujan, dan bahkan desir pasir yang terkadang terasa kerontang, semuanya itu lahir karena adanya cinta. Mungkin kita mempertanyakan, mengapa cinta selalu memiliki peran dalam setiap lingkup kehidupan ? Jawabnya sangatlah mudah, karena cinta hadir bukan oleh keterpaksaan yang kita ciptakan, melainkan karena ia memang terpaksa untuk hadir.

“No, aku lagi jatuh cinta,” suara Armie yang dari tadi rebahan di kasur dengan mata menerawang.

Aku menoleh, tersenyum, untuk kemudian ngesave tulisan ini.