eM-Saying
Jumat, Agustus 28, 2009
Malaysia... Malaysia...
Selasa, November 25, 2008
Sebuah Nama Sebuah Cerita
Selasa, November 11, 2008
Arti dari Sebuah Kesalahan
Selasa, Oktober 28, 2008
Saat Persahabatan Hanya Sekedar Hitam Di Atas Putih
Haruskah Mereka Terkisah Sebagai Bayangan Hitam ???
Rabu, September 24, 2008
Kenangan Itu…
Duduk di teras rumah, ini adalah hal yang meskipun tidak termasuk kategori sangat disukai, merupakan kebiasaan yang menyenangkan bagi saya. Biasanya saya melakukan rutinitas ini setelah shalat Ashar, waktu santai yang benar-benar luang untuk bernostalgia. Tak ada beban, tak ada paksaan, hanya saja ada sedikit pemandangan yang terasa kurang nyaman, sebuah sepeda motor butut bermerk Alfa produksi Yamaha tahun 90-an.
Jujur, abah saya sepertinya sangat menyayangi tunggangannya yang satu ini. Terbukti setelah abah membeli motor baru, kendaraan butut itu masih tetap setia menemani hari-harinya. Saya pribadi sebenarnya sudah menyarankan untuk menjual motor tersebut. Tapi entahlah, abah selalu saja menolak. Yang membuat saya semakin heran, meskipun sudah ditawar orang dengan harga tinggi (untuk ukuran sebuah motor butut) abah tetap pada pendiriannya.
“Motor ini sama umurnya dengan kamu. Sudah hampir 17 tahun abah hidup dengannya,” itulah yang terdengar saat aku menanyakan alasan abah yang tetap mempertahankan motornya. Saat itu, aku hanya mengangkat bahu.
Beberapa minggu yang lalu, seusai bimbel di bulan Ramadhan, seorang teman menegurku. “Em, kenapa sih gantungan hp dari mantan kamu itu (yang sekarang sudah hilang karena sebuah insiden kecelakaan yang saya alami dan saya amat sangat menyesali kehilangan itu) masih dipake, bukannya kalian udah putusan ?”
Saya terdiam menanggapi pertanyaan itu, dengan bahu terangkat.
Setibanya di rumah saya tidak langsung pergi ke kamar. Kulihat abah juga baru saja memarkirkan motornya.
“Em, kenapa sih gantungan hp dari mantan kamu itu masih dipake, bukannya kalian udah putusan ?”
Kalimat itu terngiang lagi. Kulihat tali yang bergantungan di hpku, untuk kemudian menatap motor butut di depan sana, dengan selukis senyum.
Kenangan, mungkin tak ada yang pantas mendefinisikannya. Tapi ia akan selalu hadir, bersama insan yang ditakdirkan untuk menjaganya.
Jumat, September 12, 2008
Filosofi Kita Sebagai Sebatang Lidi

Jangan bilang bahwa kalian tidak tahu dengan yang namanya lidi. Panjang, kurus dan rapuh. Sepertinya deskripsi sederhana itu sudah lebih dari cukup untuk memberikan gambaran pada kita mengenai sebatang lidi.
Bersatu kita teguh, bercerai kita rapuh. Tidak bisa dipungkiri, kalimat itu adalah skenario dasar dalam hidup. Tentu kita tahu mengenai sumpah pemuda dan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kedua langkah penting untuk mencapai Indonesia yang seperti sekarang ini tentunya bukan hanya buah dari satu orang, melainkan perjuangan besar dengan kebersamaan yang juga besar.
Di masa kini, organisasi sepertinya adalah misal yang konkret dan mendasar. Suatu organisasi, sekecil apapun itu, tersusun dari sistem yang saling terkait. Bukan hanya empat, atau mungkin tiga orang, tapi juga didukung oleh sub-sub yang lain, yang kesemuanya itu menjalankan mekanisme kerja sebuah organisasi. Bayangkan saja apabila ada satu bagian dari mekanisme tersebut yang tidak berjalan. Atau yang lebih parah lagi. Coba bayangkan jika hanya ada satu dua orang yang aktif dan serius dalam organisasi sedangkan yang lain hanya diam menonton. Camkan ini, mereka berdua hanya akan menjadi sebatang lidi yang rapuh. Mereka akan hancur, dan satu kehancuran itu akan menyeret kehancuran lain untuk berdatangan.
Sebagai makhluk sosial, kita pasti akan menjadi bagian dari suatu mekanisme dasar, masyarakat. Dan untuk menjalaninya kita mendapat dua pilihan, apakah bersatu dengan ‘lidi’ yang lain ataukah mengambil takdir sebagai sebatang lidi.
Senin, September 01, 2008
The Best Month

Senin, Agustus 18, 2008
Sudah Merdekakah Kita ?

17 Agustus 1945 _
Pagi yang cerah, sedikit terik dengan sengatan matahari yang cukup membara. Pemandangan di ujung sana menyosokkan ratusan orang yang menyesaki sebuah halaman. Mereka semua menunggu waktu yang sudah diimpikan sejak 300 tahun silam.
“Atas nama Indonesia, Soekarno-Hatta.”
Tepuk tangan dan gegap gempita memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.
17 Agustus 2008_
Ratusan orang memadati Istana Merdeka di Jakarta. Iring-iringan dari pasukan pengibar bendera pusaka menciptakan konfigurasi yang menggetarkan hati. Pasukan Mutiara mengantarkan sang merah putih ke puncak tertinggi. Paduan suara mengangkasakan Indonesia Raya.
“Tegak…, grak !”
Ya, 63 tahun sudah bangsa ini terbebas dari penjajahan. Akan tetapi, sudah merdekakah kita ? Mengingat ting kesejahteraan rakyat yang terlalu memprihatinkan. Mengingat ketergantungan kita pada dunia barat. Dan mengingat segala hal yang merampas kemerdekaan kita di tengah kemerdekaan ini.
Katakan satu hal, aku bangga menjadi Indonesia.
Semangat Kemerdekaan

Semangat nasionalisme merupakan hal yang sangat diperlukan untuk membangun bangsa Indonesia. Hal ini sangat diperlukan terutama oleh generasi muda yang akan memikul negara ini di masa depan. Hanya saja saat ini kebanyakan dari para generasi muda telah kehilangan rasa nasionalismenya. Kita perlu membangkitkan rasa nasionalisme itu. Penting bagi kita untuk menjadi generasi muda yang bangga akan negaranya dan dapat dibanggakan oleh negara.
Mari kita tengok sebentar perlombaan yang tak bisa lepas dari pesta kemerdekaan, panjat pinang. Saya rasa tidak begitu penting menjelaskan kronologi permainan tersebut. Yang patut kita renungkan, mengapa beberapa orang yang meskipun sudah berjejer sempurna semuanya belum setara dengan tinggi pinang mampu meraih puncak ?
Semangat, itulah jawabannya. Dan untuk mengantarkan Indonesia tercinta ke puncak dunia, semangat nasionalisme ada;ah kuncinya.
Minggu, Juli 13, 2008
Sepenggal Tentang Cinta
Cinta, satu kata ringan yang sebenarnya memiliki arti terlalu kompleks. Dalam satu kata cinta, bisa kita temukan jutaan kisah haru dan menyenangkan. Dengan kata cinta, keadaan yang belum pernah kita pikirkan ini bisa tercipta. Dan bersama kata cinta lah, kehidupan diberikan kekuatan untuk menghampiri sosok-sosok penghuni semesta raya.
Dalam kehidupan yang selama ini kita lalui, ada sangat banyak cinta yang pernah singgah. Adanya kita saat ini, prestasi-prestasi yang mampu kita raih, sepoian angin yang begitu lembut, semua itu adalah sedikit penjelmaan dari ‘cinta’. Tapi pernahkah kita sekali saja, merenungkan apakah ‘cinta’ itu ? Apakah ia adalah suatu cahaya kuning keemasan yang terseok-seok meentangkan sayapnya di ketinggian atmosfer sana ? Ataukah cinta itu berbentuk panah gaib yang tak kasat mata yang muncul dan terbenam dalam hati ?
Pada roda masa ini, cinta memegang peran puncak dari segala rantai keberadaan. Tanpa menafikan semua yang telah terjadi, kita bisa terlahir di dunia ini karena adanya cinta. Indahnya panorama alam yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita ada karena cinta. Burung merpati bisa memiliki bulu yang bersih, rinainya hujan, dan bahkan desir pasir yang terkadang terasa kerontang, semuanya itu lahir karena adanya cinta. Mungkin kita mempertanyakan, mengapa cinta selalu memiliki peran dalam setiap lingkup kehidupan ? Jawabnya sangatlah mudah, karena cinta hadir bukan oleh keterpaksaan yang kita ciptakan, melainkan karena ia memang terpaksa untuk hadir.
“No, aku lagi jatuh cinta,” suara Armie yang dari tadi rebahan di kasur dengan mata menerawang.
Aku menoleh, tersenyum, untuk kemudian ngesave tulisan ini.



